RI Menolak Bahas Genosida Dalam Rapat PBB
Jakarta - Kementerian Luar Negeri menjelaskan posisi Indonesia yang memilih "tidak" dalam pemungutan suara terkait resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjadikan pembahasan tentang "tanggung jawab untuk melindungi dan pencegahan genosida" sebagai agenda tetap dan permanen Sidang Majelis Umum.
Menurut Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kemlu Febrian A Ruddyard, posisi yang disampaikan Indonesia pada Sidang Majelis Umum PBB yang berlangsung Senin (17/5) bukan berarti Indonesia menolak membahas isu "tanggung jawab untuk melindungi dan pencegahan genosida, kejahatan perang, pembersihan etnis, dan kejahatan terhadap kemanusiaan" atau yang biasa disebut R2P (obligation to secure).Faktanya, konsep R2P telah diadopsi Sidang Majelis Umum PBB pada saat World Top 2005 dan telah dibahas sejak 2009 hingga 2017, kemudian berlanjut dalam pembahasan sebagai schedule tambahan (supplemental agenda) setiap tahun hingga 2020.
"Artinya R2P bukan barang baru. Ini sudah dibahas sejak dulu dan kita selalu terlibat dalam pembahasan," ujar Febrian dalam pemaparan media secara virtual pada Kamis, seperti dilansir Antara, Kamis (20/5).
Namun, ketika tahun ini Kroasia mengusulkan agar R2P dibahas dalam agenda tetap dan permanen SMU PBB, Indonesia tidak sepakat dengan usulan tersebut karena akan mengulang dari awal pembahasan yang telah dilakukan selama ini.
"Daripada buat schedule baru, kan harus mulai (dari awal) lagi. Lebih baik pakai agenda lama saja," kata Febrian.
Menurut Febrian, Indonesia menilai konsep R2P justru perlu diperkuat dengan pembahasan lebih lanjut yang menyentuh pada aspek implementasi dengan parameter-parameter yang jelas.
"Belum ada konsensus internasional mengenai bagaimana mengimplementasikan R2P," ujar Febrian.
"Tetapi soal (pencegahan) genosidanya sudah tidak lagi jadi masalah. Bahkan Indonesia tidak mempermasalahkan. Jadi sangat keliru bahwa dengan ballot versus berarti Indonesia tidak mau membahas isu ini," kata dia, merujuk pada pilihan Indonesia dalam resolusi PBB yang dimaksud.
Sebelumnya, UN Watch mengunggah dokumen di Twitter yang menunjukkan hasil pemungutan suara atas resolusi PBB tentang R2P.
Dalam dokumen yang diunggah LSM pengawas badan dunia itu, sebanyak 115 negara menyatakan setuju isu R2P dibahas sebagai program tetap SMU PBB, sedangkan 15 negara termasuk Indonesia menyatakan tidak, serta 28 negara memilih abstain.
Mengacu pada dokumen tersebut, Indonesia menegaskan akan menjalankan resolusi sesuai hasil pemungutan suara mayoritas dengan membahas isu R2P sebagai program tetap dan permanen.
"Resolusi Majelis Umum kan berdasarkan basic majority, jadi dengan (resolusi) kemarin itu memang sudah berjalan. Akan ada schedule permanen (terkait R2P) dan kita akan ikut karena kita tidak pernah menentang isu ini," kata Febrian.
Sebagai salah satu hasil Globe Summit 2005, R2P merupakan suatu konsep yang memiliki tiga pilar yaitu pertama, perlindungan masyarakat dari kejahatan genosida, kejahatan perang, pembersihan etnis, dan kejahatan terhadap kemanusiaan, yang merupakan kewajiban pemerintah di negara-negara.
Kedua, apabila negara tersebut tidak mampu untuk memberikan perlindungan, maka komunitas internasional wajib memberikan bantuan kepada negara tersebut untuk dapat melakukan perlindungan.
Dan ketiga, apabila negara tersebut tidak mampu dan tidak mau untuk memberikan perlindungan, masyarakat internasional dapat melakukan aksi kolektif (collective activities) untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat sesuai Bab 7 Piagam PBB.
Komentar
Posting Komentar